SERUAN BANTU MEMBANTU
SERUAN BANTU MEMBANTU
Membangun Kembali Rumah Rakyat Pascabencana Banjir Sumatra 2025
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pendahuluan
Banjir bandang yang melanda Acheh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 26 November hingga 4 Desember 2025 bukan sekadar bencana alam biasa. Ia adalah tragedi ekologis yang membuka tabir kerusakan hutan hujan Sumatra yang selama ini ditutupi oleh kepentingan oligarki dan pembiaran negara. Ribuan rumah rakyat hanyut, sekolah dan puskesmas rusak, pesantren dan balai desa hilang disapu arus, dan puluhan ribu warga kini hidup dalam ketidakpastian.
Namun di tengah kehancuran itu, Allah SWT menghadirkan tanda kasih-Nya: kayu-kayu gelondongan yang hanyut bersama arus. Kayu-kayu itu bukan sekadar sisa dari kerakusan industri ekstraktif, tetapi juga amanah—bahan mentah yang dapat kita manfaatkan untuk membangun kembali rumah rakyat secara bantu membantu. Kayu itu hadir di hadapan kita, bukan untuk dibiarkan membusuk, tetapi untuk menjadi tiang, papan, dan dinding rumah baru bagi keluarga yang kini kehilangan tempat tinggal.
Seruan ini adalah ajakan moral, sosial, dan spiritual untuk bangkit bersama. Kita tidak menunggu negara yang enggan mengakui skala bencana. Kita tidak menunggu oligarki yang telah merusak hutan untuk bertanggung jawab. Kita memilih jalan rakyat: meuseuraya, bantu membantu, saling bantu, saling kuatkan.
I. Latar Belakang: Bencana Ekologis dan Kejahatan Struktural
Banjir bandang yang melanda Acheh, Sumut, dan Sumbar bukanlah peristiwa alamiah semata. Ia adalah akibat langsung dari:
- Pembalakan liar, deforestasi dan legal yang dibiarkan bertahun-tahun
- Perluasan perkebunan sawit dan HTI tanpa kendali
- Penggundulan hutan lindung dan hutan adat
- Kongkalikong oligarki dan pejabat pusat yang menutup mata terhadap kerusakan ekologis .
Ketika banjir datang, ribuan batang kayu gelondongan terbawa arus. Kayu-kayu itu bukan berasal dari hutan yang ditebang oleh rakyat, melainkan dari operasi industri besar yang selama ini merampas ruang hidup masyarakat.
Dengan kata lain, negara lebih memilih menjaga citra oligarki daripada menyelamatkan rakyatnya sendiri. Karena itu, kita tidak boleh diam. Kita tidak boleh menunggu. Kita harus bergerak.
II. Kayu Gelondongan: Amanah dari Allah SWT untuk Membangun Kembali
Kayu-kayu besar yang hanyut bersama banjir adalah bukti kerusakan ekologis, tetapi sekaligus rezeki yang harus dimanfaatkan. Dalam tradisi Acheh, Sumut, dan Minangkabau, memanfaatkan bahan alam yang hadir di hadapan kita adalah bagian dari kearifan lokal dan prinsip anti-mubazir.
Kayu-kayu itu dapat: - Dibelah menjadi papan - Dipotong menjadi tiang - Dijadikan rangka rumah
- Digunakan untuk membangun jembatan kecil
- Menjadi bahan bangunan untuk sekolah dan puskesmas
Melarang masyarakat mengambil kayu hanyut berarti:
- Melarang rakyat membangun kembali rumahnya
- Membiarkan korban banjir hidup tanpa tempat tinggal
- Mendukung oligarki yang telah merusak hutan
- Membiarkan kayu membusuk dan menjadi beban lingkungan
Karena itu, kita menyerukan pemanfaatan kayu hanyut secara terorganisir, aman, dan bantu membantu. Kayu itu bukan milik perusahaan. Kayu itu bukan milik negara yang lalai. Kayu itu adalah hak rakyat yang menjadi korban.
III. Pengumpulan Dana: Solidaritas Nyata untuk Membangun Rumah Rakyat
Untuk membangun rumah rakyat, kita membutuhkan bahan-bahan yang tidak tersedia secara alami. Karena itu, kita membuka penggalangan dana publik untuk membeli:
- Semen
Dana yang terkumpul akan digunakan secara transparan dan akuntabel. Setiap bantuan akan diarahkan untuk pembangunan rumah rakyat, bukan untuk birokrasi, bukan untuk seremonial, bukan untuk kepentingan politik
IV. Dibutuhkan Relawan: Meuseuraya untuk Rumah, Sekolah, dan Masa Depan
Bencana ini telah menghancurkan:
- Rumah-rumah rakyat
- Sekolah dasar dan menengah
- Puskesmas dan pos kesehatan
- Pesantren dan balai pengajian
- Fasilitas publik lainnya
Karena itu, kita membutuhkan relawan bantu membantu (meuseuraya) untuk:
- Membelah kayu gelondongan
- Mengangkut material
- Membangun rumah panggung
- Mendirikan sekolah darurat
- Memperbaiki puskesmas
- Menyusun kembali ruang belajar pesantren
Relawan tidak harus ahli bangunan. Yang dibutuhkan adalah:
- Niat baik
- Tenaga
- Waktu
- Solidaritas
Banjir bandang ini adalah kejahatan ekologis negara. Karena itu, membangun kembali adalah bentuk perlawanan moral dan konstitusional. Kita tidak membalas kejahatan dengan kekerasan, tetapi dengan membangun kehidupan.
V. Dibutuhkan Bantuan Dana dan Material: Akses, Jaringan, dan Kepedulian
Kami mengajak siapa pun yang memiliki:
- Akses ke lembaga filantropi
- Kedekatan dengan donatur besar
- Jaringan dengan organisasi kemanusiaan
- Hubungan dengan perusahaan bahan bangunan
- Kemampuan logistik dan transportasi
Untuk membantu menyediakan:
- Semen
- Genteng atau seng
- Paku dan peralatan tukang
- Peralatan keselamatan
- Logistik untuk relawan
Bantuan material sama berharganya dengan bantuan dana. Setiap bahan bangunan yang disumbangkan akan langsung digunakan untuk membangun rumah rakyat.
VI. Prinsip Gerakan: Transparansi, Keadilan, dan Kemandirian Rakyat
Gerakan ini berdiri di atas tiga prinsip utama:
1. Transparansi
Setiap donasi dicatat dan dilaporkan secara terbuka. Tidak ada ruang untuk korupsi, manipulasi, atau penyalahgunaan.
2. Keadilan
Prioritas diberikan kepada:
- Keluarga miskin
- Janda dan lansia
- Rumah yang benar-benar hanyut atau rusak total
- Fasilitas pendidikan dan kesehatan
3. Kemandirian Rakyat
Kita tidak menunggu negara. Kita tidak menunggu oligarki. Kita membangun dengan tangan kita sendiri.
VII. Mengapa Kita Harus Bergerak Sekarang
Ada tiga alasan mengapa gerakan ini harus dimulai segera:
1. Rakyat Tidak Bisa Menunggu
Setiap hari tanpa rumah adalah penderitaan. Anak-anak tidak bisa belajar. Lansia tidak bisa beristirahat. Keluarga tidak bisa hidup layak.
2. Kayu Hanyut Tidak Bisa Disimpan Terlalu Lama
Jika dibiarkan, kayu akan:
- Membusuk
- Menjadi sarang hama
- Mengganggu aliran sungai
- Menjadi beban lingkungan
3. Momentum Solidaritas Tidak Boleh Hilang
Saat ini, masyarakat masih bersatu dalam duka. Inilah waktu terbaik untuk mengubah duka menjadi kekuatan kolektif.
VIII. Seruan Moral dan Spiritual
Dalam Islam, membantu sesama adalah ibadah. Dalam adat Acheh, Minang, dan Batak, bantu membantu adalah kehormatan. Dalam tradisi Nusantara, membangun rumah bersama adalah simbol persaudaraan.
Karena itu, kami menyerukan:
- Kepada para ulama: sampaikan seruan ini dalam khutbah dan pengajian
- Kepada para akademisi: jadikan ini bagian dari pengabdian masyarakat
- Kepada mahasiswa: jadikan ini ladang amal dan pengalaman hidup
- Kepada diaspora: jadikan ini bentuk cinta kepada tanah kelahiran
- Kepada pemerintah daerah: dukung tanpa birokrasi yang menghambat
- Kepada masyarakat umum: mari turun tangan
Bencana ini adalah ujian. Tetapi ujian ini juga membuka jalan bagi kebangkitan moral dan solidaritas.
IX. Penutup: Membangun Rumah, Membangun Harapan
Rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah:
- Tempat anak-anak tumbuh
- Tempat keluarga berlindung
- Tempat doa dipanjatkan
- Tempat harapan disemai
Ketika rumah rakyat hanyut, yang hilang bukan hanya dinding dan atap, tetapi juga rasa aman dan masa depan. Karena itu, membangun kembali rumah adalah membangun kembali kehidupan.
Kayu-kayu gelondongan yang hanyut adalah saksi kerusakan ekologis, tetapi juga bahan untuk membangun masa depan baru. Dengan bantu membantu, kita dapat mengubah tragedi menjadi kebangkitan.
Mari kita bergerak! Mari kita bangun! Mari kita berbantu membantu! Untuk rakyat. Untuk masa depan yang adil dan sejahtera.
Salam persatuan, salam solidarity, Salam Merdeka. Wabillahi taufiq wal hidayah,
31 December 2025
Dr. Husaini M. Hasan
Wali Neugara Atjèh dipengasingan
No comments:
Post a Comment