Left logo

STATE OF ACHEH SUMATRA

Executive Office : P.O. Box 986 MARSDEN QLD 4132 AUSTRALIA
Secretariat General : Perth, WA, Australia

Right logo

Free Acheh

SERUAN BANTU MEMBANTU

·

SERUAN BANTU MEMBANTU

Membangun Kembali Rumah Rakyat Pascabencana Banjir Sumatra 2025

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 Pendahuluan

Banjir bandang yang melanda Acheh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 26 November hingga 4 Desember 2025 bukan sekadar bencana alam biasa. Ia adalah tragedi ekologis yang membuka tabir kerusakan hutan hujan Sumatra yang selama ini ditutupi oleh kepentingan oligarki dan pembiaran negara. Ribuan rumah rakyat hanyut, sekolah dan puskesmas rusak, pesantren dan balai desa hilang disapu arus, dan puluhan ribu warga kini hidup dalam ketidakpastian.

Namun di tengah kehancuran itu, Allah SWT menghadirkan tanda kasih-Nya: kayu-kayu gelondongan yang hanyut bersama arus. Kayu-kayu itu bukan sekadar sisa dari kerakusan industri ekstraktif, tetapi juga amanah—bahan mentah yang dapat kita manfaatkan untuk membangun kembali rumah rakyat secara bantu membantu. Kayu itu hadir di hadapan kita, bukan untuk dibiarkan membusuk, tetapi untuk menjadi tiang, papan, dan dinding rumah baru bagi keluarga yang kini kehilangan tempat tinggal.

Seruan ini adalah ajakan moral, sosial, dan spiritual untuk bangkit bersama. Kita tidak menunggu negara yang enggan mengakui skala bencana. Kita tidak menunggu oligarki yang telah merusak hutan untuk bertanggung jawab. Kita memilih jalan rakyat: meuseuraya, bantu membantu, saling bantu, saling kuatkan.

 I. Latar Belakang: Bencana Ekologis dan Kejahatan Struktural

Banjir bandang yang melanda Acheh, Sumut, dan Sumbar bukanlah peristiwa alamiah semata. Ia adalah akibat langsung dari:

- Pembalakan liar, deforestasi dan legal yang dibiarkan bertahun-tahun 
- Perluasan perkebunan sawit dan HTI tanpa kendali 
- Penggundulan hutan lindung dan hutan adat 
- Kongkalikong oligarki dan pejabat pusat yang menutup mata terhadap kerusakan ekologis .

Ketika banjir datang, ribuan batang kayu gelondongan terbawa arus. Kayu-kayu itu bukan berasal dari hutan yang ditebang oleh rakyat, melainkan dari operasi industri besar yang selama ini merampas ruang hidup masyarakat.

Ironisnya, pemerintah pusat menolak menetapkan bencana ini sebagai bencana nasional. Penolakan ini bukan karena kurangnya korban atau kerusakan, tetapi karena ketakutan: jika status bencana nasional ditetapkan, maka dunia internasional akan melihat betapa parahnya kerusakan hutan hujan Sumatra akibat eksploitasi yang tak terkendali.
           Dengan kata lain, negara lebih memilih menjaga citra oligarki daripada menyelamatkan rakyatnya sendiri. Karena itu, kita tidak boleh diam. Kita tidak boleh menunggu. Kita harus bergerak.

 II. Kayu Gelondongan: Amanah dari Allah SWT untuk Membangun Kembali

Kayu-kayu besar yang hanyut bersama banjir adalah bukti kerusakan ekologis, tetapi sekaligus rezeki yang harus dimanfaatkan. Dalam tradisi Acheh, Sumut, dan Minangkabau, memanfaatkan bahan alam yang hadir di hadapan kita adalah bagian dari kearifan lokal dan prinsip anti-mubazir.

Kayu-kayu itu dapat:                                                                                                                        - Dibelah menjadi papan                                                                                                                                - Dipotong menjadi tiang                                                                                                                             - Dijadikan rangka rumah 
 - Digunakan untuk membangun jembatan kecil 
 - Menjadi bahan bangunan untuk sekolah dan puskesmas 

Melarang masyarakat mengambil kayu hanyut berarti:
- Melarang rakyat membangun kembali rumahnya 
- Membiarkan korban banjir hidup tanpa tempat tinggal 
- Mendukung oligarki yang telah merusak hutan 
- Membiarkan kayu membusuk dan menjadi beban lingkungan  

Karena itu, kita menyerukan pemanfaatan kayu hanyut secara terorganisir, aman, dan bantu membantu. Kayu itu bukan milik perusahaan. Kayu itu bukan milik negara yang lalai. Kayu itu adalah hak rakyat yang menjadi korban.


 III. Pengumpulan Dana: Solidaritas Nyata untuk Membangun Rumah Rakyat

Untuk membangun rumah rakyat, kita membutuhkan bahan-bahan yang tidak tersedia secara alami. Karena itu, kita membuka penggalangan dana publik untuk membeli:

- Semen 

- Seng atau genteng 
- Paku 
- Batu bata 
- Cat dan peralatan tukang 
- Peralatan keselamatan relawan 

Dana yang terkumpul akan digunakan secara transparan dan akuntabel. Setiap bantuan akan diarahkan untuk pembangunan rumah rakyat, bukan untuk birokrasi, bukan untuk seremonial, bukan untuk kepentingan politik

Kita mengajak:
- Diaspora Acheh, Minang, dan Sumut di seluruh dunia 
- Komunitas akademik dan mahasiswa 
- Organisasi filantropi 
- Lembaga zakat dan wakaf 
- Pengusaha lokal yang peduli 
- Masyarakat umum yang ingin membantu 

Setiap donasi, sekecil apa pun, adalah bagian dari perjuangan memulihkan martabat rakyat yang terdampak.

 IV. Dibutuhkan Relawan: Meuseuraya untuk Rumah, Sekolah, dan Masa Depan

Bencana ini telah menghancurkan:

- Rumah-rumah rakyat 
- Sekolah dasar dan menengah 
- Puskesmas dan pos kesehatan 
- Pesantren dan balai pengajian 
- Fasilitas publik lainnya 

Karena itu, kita membutuhkan relawan bantu membantu (meuseuraya) untuk:

- Membelah kayu gelondongan 
- Mengangkut material 
- Membangun rumah panggung 
- Mendirikan sekolah darurat 
- Memperbaiki puskesmas 
- Menyusun kembali ruang belajar pesantren 

Relawan tidak harus ahli bangunan. Yang dibutuhkan adalah:

- Niat baik 
- Tenaga 
- Waktu 
- Solidaritas 

            Banjir bandang ini adalah kejahatan ekologis negara. Karena itu, membangun kembali adalah bentuk perlawanan moral dan konstitusional. Kita tidak membalas kejahatan dengan kekerasan, tetapi dengan membangun kehidupan.

 

 V. Dibutuhkan Bantuan Dana dan Material: Akses, Jaringan, dan Kepedulian

Kami mengajak siapa pun yang memiliki:

- Akses ke lembaga filantropi 
- Kedekatan dengan donatur besar 
- Jaringan dengan organisasi kemanusiaan 
- Hubungan dengan perusahaan bahan bangunan 
- Kemampuan logistik dan transportasi 

Untuk membantu menyediakan:

- Semen 
- Genteng atau seng 
- Paku dan peralatan tukang 
- Peralatan keselamatan 
- Logistik untuk relawan 

Bantuan material sama berharganya dengan bantuan dana. Setiap bahan bangunan yang disumbangkan akan langsung digunakan untuk membangun rumah rakyat.

 

 VI. Prinsip Gerakan: Transparansi, Keadilan, dan Kemandirian Rakyat

Gerakan ini berdiri di atas tiga prinsip utama:

 1. Transparansi

Setiap donasi dicatat dan dilaporkan secara terbuka. Tidak ada ruang untuk korupsi, manipulasi, atau penyalahgunaan.

 2. Keadilan

Prioritas diberikan kepada:

- Keluarga miskin 
- Janda dan lansia 
- Rumah yang benar-benar hanyut atau rusak total 
- Fasilitas pendidikan dan kesehatan 

 3. Kemandirian Rakyat

Kita tidak menunggu negara. Kita tidak menunggu oligarki. Kita membangun dengan tangan kita sendiri.

 

 VII. Mengapa Kita Harus Bergerak Sekarang

Ada tiga alasan mengapa gerakan ini harus dimulai segera:

 1. Rakyat Tidak Bisa Menunggu

Setiap hari tanpa rumah adalah penderitaan. Anak-anak tidak bisa belajar. Lansia tidak bisa beristirahat. Keluarga tidak bisa hidup layak.

 2. Kayu Hanyut Tidak Bisa Disimpan Terlalu Lama

Jika dibiarkan, kayu akan:

- Membusuk 
- Menjadi sarang hama 
- Mengganggu aliran sungai 
- Menjadi beban lingkungan 

 3. Momentum Solidaritas Tidak Boleh Hilang

Saat ini, masyarakat masih bersatu dalam duka. Inilah waktu terbaik untuk mengubah duka menjadi kekuatan kolektif.

 

 VIII. Seruan Moral dan Spiritual

Dalam Islam, membantu sesama adalah ibadah. Dalam adat Acheh, Minang, dan Batak, bantu membantu adalah kehormatan. Dalam tradisi Nusantara, membangun rumah bersama adalah simbol persaudaraan.

 

Karena itu, kami menyerukan:

- Kepada para ulama: sampaikan seruan ini dalam khutbah dan pengajian 
- Kepada para akademisi: jadikan ini bagian dari pengabdian masyarakat 
- Kepada mahasiswa: jadikan ini ladang amal dan pengalaman hidup 
- Kepada diaspora: jadikan ini bentuk cinta kepada tanah kelahiran 
- Kepada pemerintah daerah: dukung tanpa birokrasi yang menghambat 
- Kepada masyarakat umum: mari turun tangan 

Bencana ini adalah ujian. Tetapi ujian ini juga membuka jalan bagi kebangkitan moral dan solidaritas.

 

 IX. Penutup: Membangun Rumah, Membangun Harapan

Rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah:

- Tempat anak-anak tumbuh 
- Tempat keluarga berlindung 
- Tempat doa dipanjatkan 
- Tempat harapan disemai 

Ketika rumah rakyat hanyut, yang hilang bukan hanya dinding dan atap, tetapi juga rasa aman dan masa depan. Karena itu, membangun kembali rumah adalah membangun kembali kehidupan.

Kayu-kayu gelondongan yang hanyut adalah saksi kerusakan ekologis, tetapi juga bahan untuk membangun masa depan baru. Dengan bantu membantu, kita dapat mengubah tragedi menjadi kebangkitan.

 

Mari kita bergerak! Mari kita bangun! Mari kita berbantu membantu! Untuk rakyat. Untuk masa depan yang adil dan sejahtera.

Salam persatuan, salam solidarity, Salam Merdeka. Wabillahi taufiq wal hidayah,

 

31 December 2025





Dr. Husaini M. Hasan

Wali Neugara Atjèh dipengasingan

No comments:

Post a Comment